Bermain Pasir Putih dan Karang Cantik di Dodola

Sejumlah kapal layar peserta Sail Morotai yang berlabuh . Tempo/Jhon Seo

Berkunjung ke Morotai tak akan lengkap sebelum berlabuh di Pulau Dodola. Pulau ini terletak sekitar 5 mil dari Kota Daruba, ibu kota Kabupaten Morotai. Di Dodola, Anda akan dimanjakan dengan pemandangan bawah laut yang eksotis. Gerombolan terumbu karang, dihiasi hilir mudik aneka ikan hias, bisa dinikmati dengan mata telanjang dari permukaan laut.
Selain suguhan pemandangan bawah laut, pulau ini juga akan memanjakan setiap wisatawan dengan pasir putihnya. Ada dua jenis pasir putih di sini. Pasir yang lebih halus ada di bagian pantai yang menghadap Pulau Halmahera. Sedang pantai yang menghadap Pulau Morotai pasirnya sedikit lebih kasar. Tak salah, jika Pemerintah Provinsi Maluku Utara menjadikan pulau ini sebagai tempat persinggahan puluhan yatch yang akan berlabuh di Morotai pada puncak Sail Morotai 2012 pertengahan September.

Untuk sampai ke pulau ini, dari Daruba tinggal menyewa speed boat yang banyak parkir di Pelabuhan Haji Imam Lastori. Sepanjang 20 menit perjalanan menuju Dodola, Anda bisa mengintip ke bawah air laut atau melongok pulau-pulau yang tersebar di kiri dan kanan perjalanan. Burung-burung laut sesekali akan melintas menemani perjalanan singkat itu.
Sampai di Pulau Dodola, begitu turun dari speed boat, saya dan tujuh rekan lainnya yang berkunjung Ahad pertengahan Agustus lalu segera berhamburan di pantai. Ada yang langsung menceburkan diri dan berenang ke laut. Adapula yang berlari kecil menyusur pasir putih yang menghubungkan pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil. Sedangkan saya, memilih berjalan menyusur pantai sambil memilih cangkang aneka rupa kerang yang terdampar di sepanjang pantai.
Kerang-kerang di sini tersebar di sepanjang bibir pantai, baik di Dodola kecil maupun Dodola besar. Jenis kerang yang lebih beragam terdapat di pantai yang menghadap ke Pulau Halmahera. Di sini, pantainya lebih landai sehingga kita bisa berjalan hingga hampir 3 meter ke arah laut dari bibir pantai. Namun, pantai di arah ini tidak terlalu nyaman untuk berenang karena banyak ganggang hijaunya. Airnya pun relatif lebih panas dibanding air di pantai yang mengarah ke Morotai.
Saat berencana pulang lebih awal, Muhlis Eso, penduduk Morotai yang menemani perjalanan kami sore itu meminta agar bersabar hingga matahari tergelincir. "Jika beruntung, dari sini bisa melihat matahari tenggelam di balik Halmahera," kata dia.
Sayangnya, saat kami berkunjung, langit ditutup awan gelap. Hanya semburat warna jingga samar-samar terlihat tenggelam ditelan Pulau Halmahera. Bayangkan jika saat ke sana saat langit cerah, pasti indah sekali.***




posted under |

0 comments:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda