MATI Lampu dan Silahturahmi

Desember 04, 2015

Ilustrasi : umcgalena
Mati lampu. Sekarang kami harus membiasakan diri dengan ritual satu ini. Saat masih tinggal di kontrakan lama, di kawasan kediaman wakil presiden, petinggi partai, pengusaha kaya dan artis kondang, kami hampir tak pernah merasakan yang namanya mati lampu. Salah satunya karena ini daerah prioritas. Kalau pun ada mati lampu, biasanya sudah ada pengumuman paling tidak dua jam sebelumnya.

Di kontrakan yang baru, di daerah penyangga Jakarta, tampaknya kami harus berakrab ria dengan mati lampu. Belum lama tinggal di sini, sudah beberapa kali mati lampu. Tanpa pemberitahuan, akhirnya tanpa persiapan.

Dan, malam ini, mati lampu lagi. Persis ketika papanya anak-anak sedang berdinas ke luar kota. Bintang, si sulung yang belum genap dua tahun langsung histeris. Si bungsu anteng saja ditaroh dibuaian. Untungnya masih ada dua lilin; sisa perayaan kecil-kecilan ulang tahun si bos. Hup! Lilin itu segera saya nyalakan. Cukup satu saja. Satu lagi buat jaga-jaga kalau lampunya mati lama.

Mati lampu. Mayoritas orang tentu tak suka mati lampu. Kalau sudah mati lampu, biasanya PLN akan jadi sasaran kekesalan warga. Diumpat, digosipkan, pokoknya PLN salah. Padahal tentu saja PLN tak bisa disalahkan. Pasti ada sebab kenapa aliran listrik di suatu daerah diputus; kurang pasokan, waduk mengering, kerusakan jaringan, kabel putus, atau paling naas ya karena menunggak tagihan listrik.

Nah. Mati lampu tentu saja tak perlu dijadikan masalah serius. Kecuali kalau matinya berhari-hari. Atau mati lampu karena kurangnya instalasi listrik seperti daerah-daerah pelosok yang belum terjangkau listrik PLN. Itu baru masalah. Tapi bagi warga kota yang mati lampunya baru hitungan jam, anggap saja itu sebagai berkah.

Berkah karena situasi ini ternyata membawa banyak keajaiban yang hanya terjadi saat mati lampu. Tik. Ketika komplek kami mati lampu, setiap rumah akan membuka pintu utama lebar-lebar sekadar mencari keademan. Lebih dari itu, mereka akan keluar, dan akhirnya duduk bergerombol dengan tetangga sekitar rumah. Komplek kami misalnya, menjadi riuh setelah mati lampu.

Rumah tetangga saya yang memang menyediakan kursi santai langsung jadi posko utama. Riuh rendah. Suasananya begitu cair. Indah bukan. Mati lampu menjadi bumbu memperekat silaturahmi dengan tetangga.

Di rumah kami, malam itu, mati lampu juga membawa keindahan. Setelah lilin hidup, kami bertiga; saya, Bintang, dan Azizah duduk mengelilingi lilin. Bintang dengan berbinar mencoba meniup nyala lilin. Zizah tentu saja masih dalam pangkuan saya. Cahaya lilin berpendar-pendar menerangi kami bertiga. ***

You Might Also Like

0 comments