Ubi Goreng Amak

Sore ini, saya menyiapkan camilan ubi goreng untuk keluarga kecil kami. Ubinya ubi merah. Saat Pertama melihat, si sulung Bintang langsung antusias mencoba. Sayangnya hari ini, ia tak begitu enak badan. Semangat makannya hanya besar di potongan pertama. :-)

Ubi goreng mengingatkan saya pada pengalaman sewaktu masih kanak-kanak. Saat masih sekolah dasar, Abak dan Amak pernah berjualan aneka gorengan di depan rumah. Setiap hari Selasa, dagangan goreng itu digelar di pasar mingguan yang terletak di depan rumah kami.

Setiap kali Abak atau Amak membuat goreng ubi, kami berempat adik beradik senang berebutan ubi merah.

Ubi merah saat itu tak memiliki nilai jual. Biasanya hanya terselip di antara sekarung ubi putih yang lebih renyah. Karena itu ubi merah menjadi seperti bonus bagi kami.

Menginjak kelas 4 SD keluarga kami pindah rumah. Tapi kebiasaan makan ubi goreng di keluarga kami tak berubah. Hampir setiap pagi, kami membeli uni goreng ke warung untuk dijadikan sarapan. Tentu saja bukan ubi goreng tok. Ubi itu dilahap bersama nasi putih yang sudah ditabur parutan kelapa da  gula. Enak sekali.

Namun seiring perkembangan gaya hidup, ketika usia saya sudah kepala tiga, saya melihat fakta ubi goreng tak lagi semewah dulu. Mungkin karena orang-orang memiliki akses dan kesempatan mengenal beragam jenis camilan. Camilan nusantara seperti bolu kukus, donat, bakso goreng, camilan asia, ataupun western.

Sebenarnya ubi goreng tak perlu menjadi camilan kelas dua. Dengan sedikit sentuhan modern, seperti goreng pasir, kremes, keju serut atau meses, ubi goreng tentu saja bisa jadi camilan favorit. Selain sehat, ubi juga menjadi camilan yang pas buat anak apalagi yang susah makan seperti Bintang anak kami.

posted under |

0 comments:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda