“Amak ingin punya foto yang dilukis.”
Ucapan itu selalu terngiang saat saya melihat sebuah amplop
yang terselip di antara dokumen penting di rak buku. Amplop itu berisi foto
dengan gambar seorang perempuan dan lelaki muda. Foto yang kini seharusnya
jelma menjadi lukisan; sebuah lukisan kanvas dua wajah.
Setiap kali saya membuka amplop, perempuan dalam foto akan menyunggingkan
senyum damai. Senyum yang selalu membuat saya kuat. Senyum yang
memberi kehangatan di saat saya tengah lemah.
Perempuan itu, yang memakai baju kurung merah muda dengan selendang di
kepalanya adalah Amak. Ibu yang melahirkan, dan membesarkan saya. Ibu yang padanya
saya temukan kedamaian. Ibu yang selalu membuat saya rindu. Rindu untuk pulang.



