Bukan sekadar urusan produksi, ada dedikasi dan semangat untuk menginspirasi.
***
Rumah bernomor 20 di salah satu gang pemukiman padat bilangan M Thoha Bandung itu terlihat biasa saja. Sama seperti rumah-rumah di sebelahnya. Dari luar tidak tampak aktivitas yang mencolok. Deretan tanaman hias tersusun rapi menutup dinding rumah berbalut batu alam itu.
Seketika ada rasa ragu, apakah
benar itu rumah yang dituju. Sampai akhirnya mata saya tertumbuk pada backdrop
berukuran sedang yang tertempel di dinding sebelah kiri. Hirka Chicken Feet
Leather. Yap. Pria di balik bisnis itulah yang ingin saya temui siang itu, satu
hari sebelum penghujung tahun 2019. Pemuda kelahiran Bandung, 24 tahun lalu itu baru saja menggebrak
Indonesia dengan produk kulit sepatu berbahan kulit ceker ayam yang kini telah
mendunia, Nurman Farieka Ramdhani.
***
Cukup lama Nurman berbagi
cerita mengenai pembuatan sepatu berbahan kulit ceker ayam yang sudah tiga
tahun ia kembangkan itu. Dari semula hanya coba-coba akhirnya kini mendunia. Ia
sebelumnya tak menyangka bisnis itu bisa berkembang dengan cepat. Bahkan sejak
2019, demi mengembangkan produk baru itu, ia rela meninggalkan usaha sepatu
kanvas yang sudah ia geluti sejak beberapa tahun terakhir.
“Banyak pekerjaan yang harus dirampungkan untuk pengembangan, makanya saya ingin fokus dulu ke bisnis sepatu kulit kaki ceker ini,” ujar Nurman. Ada semangat dan harapan dari nada suaranya.
Nurman memang tidak
baru-baru amat dalam dunia persepatuan. Sebelum mengembangkan sepatu berbahan
kulit kaki ceker ayam, ia sudah mengembangkan usaha sepatu kanvas. Itu pun
setelah ia jatuh bangun dalam mengembangkan produk dompet dan aksesori berbahan
kulit. Keahlian dalam membuat sepatu kulit kanvas ia dapatkan dari hasil
belajar otodidak ke beberapa sentra industri kreatif. Salah satunya pada
pengrajin kulit di kawasan Cibaduyut.
Terlahir dari keluarga yang
tak punya latar belakang wirausaha, Nurman mengaku sebenarnya ia mulanya hanya
tercebur dalam dunia wirausaha. “Karena kebutuhan.” Ceritanya, setelah SMA ia
melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Namun karena
ada kendala, terpaksa berhenti di tengah jalan.. Buntutnya, semua fasilitas diputus oleh orang tua.
Nurman muda tidak punya
pilihan. Satu-satunya cara untuk tetap bertahan, harus memiliki penghasilan. Maka atas
dasar coba-coba ia pun ikut dengan beberapa pengrajin aksesori yang ada
di Bandung. Pengalaman karena terpaksa itu justru memancing bakat wirausaha
dalam dirinya keluar. Sampai akhirnya ia berani membuat sepatu kanvas.
Usaha sepatu kanvas itu
berkembang pesat. Pesanan datang tidak hanya dari Bandung, tetapi juga dari
berbagai kota. Tak jarang pula ia kelabakan menerima pesanan dari calon
pembeli. Namun, sebuah peristiwa mengalihkan perhatiannya. Nurman, menemukan
berkas hasil penelitian sang ayah tentang penggunaan kulit kaki ceker.
“Saya jadi berpikir, kenapa tidak sekalian dikembangkan menjadi produk sepatu.” ujar Nurman.
Pada 2015 ia pun melakukan uji ketahanan dan uji kelayakan bahan kulit kaki ayam. Ia pun mulai memesan ceker ayam dari
pedagang di sekitar rumah. Ada banyak aspek yang ingin dilihat, tentang
kekuatan, ketahanan, dan kelenturan. Ia juga mulai menyulap bahan kulit kaki
ceker menjadi sepatu.
![]() |
| pekerja sedang melepas kulit kaki ceker ayam |
Setiap sepatu memerlukan
20-80 kulit ceker kaki ayam, tergantung model dan tingkat kesulitan pesanan.
Pada tahap awal, ia mengembangkan produk sepatu wanita. Saat itu Nurman berasumsi,
konsumen perempuan lebih mudah diedukasi untuk menggunakan produk baru.
Setahun bereksperimen, mulai terlihat ada harapan. Bahkan, kualitas sepatu yang dihasilkan jauh di luar
bayangannya. Tekstur kulit kaki ceker membuat sepatu terlihat menjadi mewah. Belum
lagi, saat itu produk yang dikembangkan belum beredar di pasaran. Maka, pada
2016 ia mulai melakukan analisis pasar.
Merasa mantap, pada 2017,
Nurman secara terbuka memperkenalkan produk sepatu kulit ceker ke pasar. Ia memperkenalkan brand Hierka Shoes, sepatu kulit ceker ayam pertama di dunia. Produk
itu lebih banyak dipasarkan lewat media digital, seperti facebook, instagram
dan kerjasama dengan beberapa toko online. Ia juga gigih melakukan promosi
melalui beberapa event pameran.
Meningkatnya permintaan
pasar, membuat Nurman mulai mengenyampingkan produk sepatu kanvas yang sudah ia
kembangkan. Empat pekerja yang sebelumnya hanya mengurus sepatu kanvas mulai
diperbantukan untuk membuat sepatu kulit ceker ayam. Nurman memberikan
pendampingan secara langsung kepada karyawan tentang pengolahannya.
Arman, salah satu pekerja menyebutkan, perpindahan bisnis utama dari kanvas ke sepatu berbahan kulit ceker tidak membuat ia ragu. Secara
teknik, menurut Arman pembuatan sepatu dari kulit ceker ayam relatif sama
dengan berbahan kanvas.
“Cuma kalau di kulit ayam kita jadi harus lebih banyak sabar karena harus telaten mengurus si kulit cekernya,” ujar Arman sambil tersenyum.
Inovasi
Tiada Henti
![]() |
| proses produksi sepatu |
Punya produk yang diterima
baik oleh pasar, rupanya tak membuat Nurman kalap untuk segera meraih untung.
Prinsip kehati-hatian tetap ia jaga. Ia tak mau, demi mengejar kuantitas,
kulitas produk yang dihasilkan menjadi terabaikan. Karena itu, ia memilih tidak
menggenjot para pekerja dengan target produksi.
Meski tak mengantongi gelar
sarjana, Nurman tetap ketat membaca pasar. Ia tak segan berlama-lama diskusi
dengan para pengrajin yang lebih sukses, dan membaca kisah-kisah para pengusaha
sukses untuk memperkaya wawasan. Tak melulu soal produksi tetapi juga soal
pemasaran. Ia merasa sangat penting untuk mengetahui trend dan kecenderungan
pasar.
Atas berbagai diskusi dan
pembacaan terhadap trend pasar, awal 2019, Nurman mengubah strategi. Tak lagi
memproduksi sepatu perempuan. Ia mulai beralih mengembangkan sepatu pria.
Sedang sepatu wanita hanya dibuat berdasarkan pesanan.
“Riset pasar menunjukkan laki-laki lebih royal dalam belanja, tapi kecenderungan untuk belanja tidak setinggi perempuan. Sedangkan perempuan lebih gampang belanja tetapi sensitif terhadap harga.”
![]() |
| inovasi dan pengembangan produk hirka. foto; hirka.offiicial |
Bagi Nurman, riset tersebut sangat penting. Alasannya, harga sepatu yang ia jual terbilang tinggi. Untuk setiap sepatu biasanya dihargai sekitar Rp1 juta. Hal ini karena tingkat kesulitan dan lama pembuatan yang diperlukan untuk menyelesaikan 1 sepatu.
Strategi mengembangkan produk laki-laki ini rupanya tak meleset. Selama 2019, ia mengalami peningkatan omset cukup signifikan. 1 bulan permintaan bisa 40-100 sepatu. Namun karena keterbatasan produksi beberapa pemesan terpaksa harus membatalkan order.
Pesanan pun tak hanya datang dari dalam negeri. Beberapa kali ia mendapat pesanan dari luar negeri seperti Arab, Singapura, dan beberapa negara Eropa. Sayangnya, tak semua permintaan bisa dipenuhi.
Demi
Lingkungan untuk Masa Depan
![]() |
| ketekunan dan ketelitian menjadi kunci produk yang berkualitas |
Mengembangkan sepatu yang
diterima pasar tentu saja menggiurkan. Apalagi saat ini belum ada pesaing.
Namun bagi Nurman, kebahagiaan memproduksi sepatu kulit ceker ayam tak hanya
soal pendapatan. Ia merasa senang karena dengan memanfaatkan kulit ceker ia
bisa berkontribusi pada lingkungan.
Kulit ceker ayam, biasanya
menjadi menjadi bahan terbuang yang tak termanfaatkan. Dengan menyulapnya jadi
sepatu, ia memberi nilai tambah baru. Harga ceker di lingkungan rumahnya
pun menjadi lebih baik. Pedagang sayur
biasanya dengan senang hati memasok ceker-ceker yang besar dan baik.
Masyarakat di sekitar
lingkungan juga mendapat berkah. Ceker yang sudah dikupas kulitnya biasanya
dibagi-bagikan begitu saja oleh Nurman pada tetangga. Para tetangga jadi
bersemangat membuat sop ceker ayam. Bila pesanan sedang banyak, ia pun tak
segan memberikan ceker yang sudah dikuliti pada pedagang soto dan seblak di
sekitar rumah. “Kita bagi-bagi gratis saja buat siapa yang mau.”
Membuat sepatu dari bahan kulit
ceker ayam, menurut Nurman juga berkontribusi menjaga kelestarian hewan. Ia
berharap dengan beralih menggunakan sepatu berbahan kulit ceker ayam, kebutuhan
akan produk sepatu kulit berbahan hewan langka seperti ular sanca dan juga
buaya menjadi berkurang. Pemanfaatan ceker ayam tidak mengganggu populasi
hewan.
Inovasi dan kreativitas
Nurman telah membawanya pada babak baru. Setelah ikut memeriahkan beberapa
pameran, pada 2019 ia terpilih menjadi salah satu penerima Satu Indonesia Award
2019 untuk kategori wirausaha. Satu Indonesia Award merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan PT Astra Internasional yang diberikan kepada sosok-sosok inspiratif dan pembawa perubahan untuk lingkungan. Keberanian Nurman untuk memulai usaha yang “tak
biasa” serta kepiawaian dalam membangun pasar membuat ia terpilih sebagai sosok
pemuda inspiratif.
![]() |
| semangat dan harapan sambut hari depan |
Bagi Nurman, penghargaan itu
membanggakan sekaligus memberatkan. Ia senang karena kerja kerasnya mendapat
pengakuan. Namun juga menjadi terbebani karena ia tak mau mengecewakan. Karena
itu, pada 2020 nanti dia berikhtiar untuk membuat Hirka Shoes menjadi lebih
berjaya.
Saat ini, Nurman tengah menyiapkan
lima produk unggulan untuk dipasarkan pada 2020. Produk itu terinspirasi dari
keberagaman yang ada di Indonesia. Lewat produk sepatunya, Nurman ingin
menyebar semangat Bhineka Tunggal Ika, lewat penamaan dan motif produk yang
tengah disiapkan. Ia menargetkan, pada tahun ketiga ia bisa memproduksi 500 pcs
setiap bulannya.
Pada 2020 pula ia berencana
akan mengemas pemasaran dengan lebih baik. Pemanfaatan media digital akan
dioptimalkan dengan berbasis riset dan efisiensi. Selain ingin memperluas
pasar, ia juga ingin menularkan semangat untuk terus berinovasi pada generasi
muda di seantero nusantara.
“Saya ingin, makin banyak wirausaha muda baru yang tumbuh, sehingga Indonesia menjadi lebih kuat.”
#KitaSatuIndonesia
#IndonesiaBicara Baik
***










