Cuplikan berita yang disiarkan salah satu stasiun televisi mengenai kehidupan para pengungsi Rohingya di Aceh awal Oktober lalu membuat saya terharu. Lebih lima bulan di lokasi penampungan wajah para pengungsi tak lagi muram. Anak-anak dengan riang bermain dan belajar. Sedangkan para orang tua terlihat aktif dengan berbagai pelatihan keterampilan dan pertanian.
Jumat, 15 September 2017
Aceh dan Kekuatan Kemanusiaan
Cuplikan berita yang disiarkan salah satu stasiun televisi mengenai kehidupan para pengungsi Rohingya di Aceh awal Oktober lalu membuat saya terharu. Lebih lima bulan di lokasi penampungan wajah para pengungsi tak lagi muram. Anak-anak dengan riang bermain dan belajar. Sedangkan para orang tua terlihat aktif dengan berbagai pelatihan keterampilan dan pertanian.
Kamis, 07 September 2017
Ketika Celengan Ayam Bintang Bertelur Banyak
Beberapa pekan terakhir, si sulung, Bintang, punya kesenangan baru. Hampir
setiap pagi ia menenteng-nenteng celengan ayam berkeliling rumah.
Kamis, 24 Agustus 2017
Senin, 07 Agustus 2017
Me Time Itu...
Empat bulan terakhir, sejak menepi dari dunia kerja dan menyandang status sebagai ibu rumah tangga penuh waktu, praktis hari-hari saya habis di rumah. Bermain dan belajar bersama jagoan dan srikandi kami, Bintang, 25 bulan, dan Zizi, 7 bulan.
Setiap hari tiada henti kami menemukan hal-hal baru. Saya tak pernah bosan menyaksikan keajaiban tumbuh kembang anak-anak kami.
Setiap hari tiada henti kami menemukan hal-hal baru. Saya tak pernah bosan menyaksikan keajaiban tumbuh kembang anak-anak kami.
Kamis, 13 Juli 2017
Untuk Bu De Imah dan Mereka yang Pantang Menyerah
Seringkali kita terlambat sadar bahwa hanya butuh langkah kecil untuk menjadi lebih bermanfaat bagi sekitar. Menjadi #LebihBerarti
****
Hampir setiap pagi, bila sedang tidak belanja di pasar, saya akan terdampar di gerobak penjual sayur. Gerobak itu saban hari mangkal di gerbang samping, komplek rumah kami. Biasanya ketika saya datang sudah banyak ibu-ibu berbelanja.
Misalnya ketika suatu pagi Bu De Imah membawa buah rambutan. Saya yang semula tak berniat membeli akhirnya menenteng dua renjeng rambutan pulang. Begitu juga ketika dia menjual buah nangka.
"Belanja di sini enak, harganya murah dan Ibu penjualnya ramah," ujar salah seorang Ibu suatu pagi pada saya.Nama penjual sayur itu Imah. Saya biasa memanggilnya Bu De Imah. Dari perawakannya, perempuan itu sebaya dengan Ibu saya. Seperti yang dirasakan pelanggan lain, saya juga nyaman belanja dengan Bu De Imah. Dia juga pintar membujuk pelanggan untuk membeli dagangannya.
Misalnya ketika suatu pagi Bu De Imah membawa buah rambutan. Saya yang semula tak berniat membeli akhirnya menenteng dua renjeng rambutan pulang. Begitu juga ketika dia menjual buah nangka.







