A homepage subtitle here And an awesome description here!

Selasa, 21 April 2020


Selasa, 07 April 2020

ZenBook Impian dan Liburan Penuh Kesan



Kita sering tak menduga, ada banyak pencapaian besar yang dimulai dari kisah-kisah kecil. Noktah yang terangkai mewujudkan impian.

***

Pagi masih buta saat mata terjaga. Suara orang mengaji dari masjid sudah mulai terdengar. Sayup-sayup. Buru-buru saya bangun, menyambar handphone yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur.

“Ini sudah pukul berapa?”

Ah. Lega rasanya, ternyata masih dalam ekspektasi. Ini baru pukul 3.30 pagi. Segera saya bangkit. Pelan-pelan beringsut dari kasur. Meminimalisir gerakan agar suami dan si kecil tidak terjaga.

Pagi itu, seperti yang sudah direncanakan saya akan melakukan perjalanan. Sendirian. Jauh dari keramaian kota Jakarta yang tak pernah berhenti dari gegap gempita. Perjalanan menuju Pulau Pramuka, pulau indah yang berada di Kepulauan Seribu sudah disiapkan sejah jauh hari.

Hampir sejam, segala sesuatu untuk perjalanan sudah tersedia. Tak banyak yang dibawa, karena saya hanya akan satu malam berada di sana. Tak lama setelah menunaikan kewajiban pagi saya pun melangkah ke luar rumah. Bismillah.

***

Padat. pada musim libur natal dan tahun baru, Dermaga Kali Adem disesaki wisatawan yang ingin berwisata ke Pulau Pramuka

Matahari belum terlalu tinggi saat saya tiba di Dermaga Kali Adem, Muara Angke.  Baru pukul 7 pagi. Hari itu, 22 Desember 2018, pelabuhan lebih ramai dari biasa. Ransel dan tas bertumpuk di banyak tempat. Mereka yang datang berkelompok duduk bergerombol menunggu keberangkatan. Di loket pembelian karcis antrian mengular.

“Pada banyak yang mau camping di pulau,” ujar Bapak penjual air kemasan pada saya.

“Biasanya nanti kapalnya juga bakal penuh Neng,” ujarnya lagi.

Yap. Tidak meleset. Penjelasan si Bapak hampir benar secara mutlak. Semua kapal kayu, kapal tradisional milik nelayan, kapal-kapal yang biasanya menyeberangkan penumpang ke beberapa pulau sudah sesak dengan penumpang. Banyak juga yang duduk di atas, mereka semua mengenakan pelampung lengkap.

Di dermaga petugas dari Dinas Perhubungan, dari kepolisian dan dari PELNI terlihat lebih sibuk. Juga ada tim Badan Nasional Narkotika yang memeriksa setiap tas calon penumpang. Tas-tas itu dijejer lalu diperiksa satu persatu, tak boleh ada yang lolos.

Razia Narkoba, petugas memintta calon penumpang membariskan tas sebelum naik kapal. pemeriksaan secara manual dan menggunakan anjing pelacak. 


Di loket antrian, saya masih menunggu giliran. Di tengah antrian yang mengular, saya menoleh ke kiri. Tanpa sengaja mata saya tertumbuk spanduk bertuliskan, Loket Pembelian Tiket Kapal KM Arwana milik BUMN Angkutan Sungai Danau dan Kapal (ASDP)  Tidak ada antrian di sana. Segera saya bergegas meninggalkan barisan. 

Rupanya, di Kali Adem juga tersedia Kapal pemerintah. Kapal ini membawa penumpang ke tiga pulau, Pulau Tidung, Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa. Tiketnya Rp 27 Ribu rupiah saja. Jauh lebih murah dibanding menggunakan kapal kayu apalagi kapal cepat yang ongkosnya di atas 50 ribu.

Di kursi pemesanan tiket duduk seorang laki-laki paruh baya.  Namanya Pak Trismo. Mengenakan seragam putih baju dongker milik BUMN Angkutan Sungai Danau dan Pulau (ASDP).

Laki-laki itu tersenyum ramah ketika saya mendekat. Sebelum saya bertanya dia lebih dulu berucap.

“Mau ke Pramuka Mbak?”

Pertanyaan itu saya jawab dengan anggukan. ”Masih ada tiketnya Pak?” Tanpa menunggu, dia pun menyodorkan kertas tiket.

“Kapalnya ada di dermaga paling belakang. Setelah deretan kapal-kapal kayu,” ujar Pak Trismo.

Saya begitu bersemangat. Tak sabar menikmati perjalanan menuju pulau Pramuka. Terlebih lagi, akhirnya saya bisa terbebas dari antrian yang mengular.

Setelah menyerahkan uang, saya permisi dan segera menuju kapal. Agak sulit menemukan Kapal KM Arwana milik ASDP ini. Belum banyak penumpang yang tahu. Bahkan beberapa petugas yang saya tanya tak tahu pasti di mana letaknya. Mungkin karena mereka memang petugas yang hanya diperbantukan sesaat ketika music padat seperti hari itu.

Akhirnya, dengan petunjuk seadanya saya menuju area ujung dermaga. Dan, syukurlah. Di sana, kapal berukuran menengah sedang bersandar.

Berbeda dengan suasana di deretan kapal kayu, di sini jauh lebih sepi. Tak banyak penumpang yang tahu. Mungkin  karena armada ini masih baru. Sosialisasi dari pemerintah dan ASDP sepertinya juga belum terlalu ramai.

Kapal Murah milik Pemerintah, di Kali Adem juga terdapat kapal milik pemerintah, KM Arwana yang lebih bagus dam murah dibanding kapal lainnya. 

***

Suasana di atas KM Arwana begitu berbeda dari ekspektasi saya. Kapalnya bersih. Ada dua area yang bisa digunakan untuk penumpang. Di bagian geladak ada deretan bangku yang tersusun rapi. Mirip ruang makan, dengan deretan meja kursi. Di sana juga ada beberapa tanaman untuk memberi kesan hijau.

Di bagian dek dalam, terdapat ruangan ber-AC. Ada TV layar datar di depan. Kapasitas kursinya kurang dari 200 orang. Terlihat lega dan bersih. Di bagian belakang, terdapat dua toilet yang tak kalah bersih. Terawat dan rapi.

“Ini seperti naik kapal kelas VIP. Penumpangnya sedikit, tapi fasilitasnya bagus begini,” celetuk salah seorang penumpang.

Yap. Penumpang di atas kapal itu sangat jauh dibanding kapasitas yang ada. Tak cukup 25 penumpang. Jadinya kami cepat akrab.  

Beberapa saat duduk di dalam ruangan ber-AC, saya memilih pindah ke luar. Menjadi lebih leluasa  melihat pemandangan di lautan. Memandang Teluk Jakarta dari kejauhan. Dan ketika peluit kapal sudah berbunyi, sudah waktunya kami pergi.

Dalam suasana hening dan sepi itu, saya mulai menikmati perjalanan. Apalagi cuaca hari itu berawan, tidak panas dan tidak hujan. Tapi tak lama saya merasa ada yang kurang. Menikmati laut saja sepertinya tak cukup. Harus ada sesuatu yang bisa membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan. 


"Menulis, adalah bagian paling menyenangkan dalam perjalanan. Miliaran ide bertebaran. Bahkan ketika liburan. Apalagi bila disupport laptop andalan"

Ah. Latop. Itulah yang saya butuhkan. Angin semilir, suara mesin kapal, gelombang air, dan pemandangan ke laut lepas, kombinasi yang pas untuk menuangkan ide. Menuliskan untaian kata menjadi sebuah cerita. Kisah yang akan dikenang sepanjang masa.


Kemewahan, kecanggihan, dan kenyamanan berpadu dalam satu genggaman.


Dalam situasi begini, dengan perjalanan serba seadanya, saya langsung membayangkan sebuah laptop tipis, tapi powerfull. Tipis agar mudah ditenteng-tenteng. Tidak memakan space penyimpanan dalam ransel perjalanan. Tidak menjadi beban. Powerfull mendukung produktivitas. Dan tidak haus daya agar tetap bisa dipakai dalam situasi tak ada colokan listrik.

Saat itu saya jadi teringat dengan teman di kampus. Bukan. Bukan. Sebenarnya bukan sosok teman itu yang saya ingat. Tetapi tentengannya. Laptop ASUS yang selalu ia bawa ke mana-mana untuk menemani produktivitasnya. Saya memang sudah jatuh cinta, ingin memiliki laptop seperti dia, laptop trendy keluarga ZenBook.  

Ya, ya. Sejak kemunculan laptop ASUS, seri ZenBook memang selalu menggoda mata dan hati saya. Bahkan pikiran ini sudah saya utarakan pada suami. 

Di malam peringatan ulang tahun ketiga blog duniabiza.com,  saat kami bersama-sama melakukan evaluasi dan harapan tahunan,  saya sampaikan padanya bahwa saya ingin punya laptop sendiri, pengganti laptop lama yang raib dibawa maling. Sayapun menyadari, laptop suami yang kini sering saya pakai sudah sangat dibutuhkan pemilik sahnya.

“Kalau memungkinkan tahun 2019 Adek mau #PakaiZenBook ya Bang,” pinta saya padanya.

Dia tersenyum. Saya hampir begitu bahagia melihat anggukannya. “Doakan ada rezekinya ya,” ujar suami.

Meski tak jadi girang seratus persen, saya tetap senang. Paling tidak ia memberi persetujuan. Setidaknya impian saya untuk #2019PakaiZenBook  sudah disetujui. Ini hanya persoalan waktu dan juga rezeki.

“Memangnya mau ZenBook yang mana?

Aha. Inilah dia. Bagian ini yang paling saya ingat. Saya pun bersemangat menjelaskan. Saat itu hanya ada satu ZenBook yang menggoda hati. ASUS ZenBook S UX391UA


ASUS ZenBook UX391UA, A Vision of Beauty


Iyap. Sejak pertama melihat ASUS ZenBook UX391UA wara-wiri di timeline media sosial, saya begitu bersemangat. Apalagi banyak blogger keren yang merekomendasikan laptop ini. Ada Mba Mira Sahid, founder Kumpulan Emak Blogger, ada traveler kece Mba Katerina. Mereka adalah perempuan-perempuan yang selalu memotivasi saya untuk tetap bersemangat menulis.

Banyak hal yang membuat saya tertarik dengan ASUS ZenBook UX391UA ini. Profil dan spesifikasinya terasa amat cocok dengan profil saya yang memang sering bepergian. Melakukan perjalanan untuk berbagai keperluan. Untuk pekerjaan maupun untuk liburan.

Bahkan ketika berlibur dengan anak-anak pun saya mesti membawa laptop ke mana-mana. Untuk memudahkan aktivitas sebagai penulis, kebutuhan menyelesaikan tugas kampus dan tentu saja untuk menunjang aktivitas blogging. Bahkan sekadar berjaga-jaga bila ada tugas mendadak.


"No Fuss No Drama"

Tipis dan seksi. Inilah keunggulan utama yang saya paling suka. Beratnya 1 kilogram, dengan tebal hanya 12,9 mm. Ringkas untuk digotong ke mana-mana. Ketika melakukan perjalanan saya tidak perlu memikirkan space besar untuk penyimpanan di dalam tas. Juga tak perlu khawatir beban berat tertumpu di bahu.

Bayangkan bila duduk di seminar, atau saat berbicara dalam conference, dengan ZenBook UX391UA di atas meja, rasanya tak berlebihan bila rasa percaya diri makin kentara. Membuat mood untuk berbicara di depan publik menjadi lebih menyala. 

Untuk dibawa kuliah, dan diboyong tiap hari tentu juga pas. Paling tidak dengan Asus ZenBook UX391UA saya hanya perlu memikirkan beban dari  buku-buku diktat perkuliahan. Apalagi, beban studi di jenjang pascasarjana yang kini saya lalui menuntut hari-hari tak pernah lepas dari pustaka.

Meski tipis, bukan berarti laptop ASUS Zenbook UX391UA ini ringkih. Sama seperti perempuan yang ramping belum tentu ia tak bertenaga. Latihan teratur dan kemampuan menjaga makanan membuat para perempuan tetap berstamina. Makanya ketika harus bepergian dan melakukan perjalanan bahkan saat sendirian perempuan ramping seperti saya tetap bisa bersemangat.

"Sama seperti perempuan ramping belum tentu ia tak bertenaga, ASUS ZenBook UX391UA adalah laptop tipis dan kokoh di kelasnya." 

Begitu pula laptop ASUS ZenBook UX391UA. Meski tipis ia sudah disiapkan untuk menjadi laptop kokoh. Menggunakan desain bodi khusus yang sudah tersertifikasi Military Grade MIL-STD 810G, ZenBook ini bisa aman dari benturan. Jadi saat dimasukkan di dalam tas saya tak perlu terlalu khawatir dengan keamananya. Apalagi untuk saya yang memang lebih suka membawa ransel ke mana-mana.

Meletakkan laptop di punggung dan membawanya keluar masuk kampung untuk penelitian tentu tidak akan membuat khawatir. Nyatanya, laptop ini sudah melewati serangkaian pengujian ekstrem seperti guncangan, jatuh, penggunaan di ketinggian, dan juga penggunaan dengan tes di suhu tinggi dan rendah. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan.

Bagi saya yang suka apa adanya, menulis seingatnya. Bahkan ketika dalam perjalanan di pesawat, kereta, maupun di atas kapal,  tak jarang saya membuka laptop dan menuangkan gagasan. Karena di situlah ide berada. Ditemukan di antara romantika perjalanan. Maka saat ide itu tiba hanya satu yang saya harapkan. Kenyamanan.




"More comfortable by design"

Untuk urusan kenyamanan ini, performa laptop sangatlah membantu mood. Apalagi kalau keyboard yang ada bisa dioperasikan dengan nyaman. Urusan mengetik akan menjadi lebih lancar. Tidak perlu merasa kepanasan saat laptop diletakkan di atas paha ketika duduk selonjoran sambil mengetik. Sirkulasi udara yang lebih lancar membuat laptop tak cepat panas.

Capek berpikir dan ingin sedikit refreshing, tinggal hidupkan music atau film. Performa audio dengan kualitas premium siap menemani. Untuk urusan kenyamanan ini, ASUS ZenBook UX391UA sudah siap dengan ErgoLift Design, sebuah rancangan yang sudah mendapat penghargaan secara internasional.

Di luar urusan tampilan. Secara performa, ASUS ZenBook UX391UA jauh meninggalkan laptop di kelasnya. Selain mengedepankan Ergo Lift Design, ZenBook ini ditunjang prosesor Intel Core generasi ke-8, RAM 16 GB. Ruang penyimpanannya pun besar dan tidak membuat performa laptop menjadi lambat karena menggunakan M.2 NVMe PCIe SSD.


"The art of perfection"

Teknologi ini sangat membantu sekali dalam proses kreatif. Mengedit gambar, membuat desain dan edit video. Yap. Soal urusan mengedit video ini seringkali menjadi kendala kalau menggunakan laptop dengan performa apa adanya. Bayangkan bila proses kreatif dikerjakan dengan laptop canggih, hasilnya pasti akan sangat memanjakan daya imajinasi.

Keanggunan, kecanggihan dan desain sempurna yang ditawarkan Asus ZenBook UX391UA menjadi ciri khas yang memanjakan mata. Apalagi ada dua variasi warna yang menggoda, Deep dive blue dan Rose Gold. Pancaran keindahan kedalaman bawah laut dan rona rose yang tak pernah lekang oleh waktu. Apalagi ditambah dengan lampu latar keyboard yang bak bersulam emas. Indah dan sejuk dipandang.


ZenBook UX391UA, full energy, full performance, full confidence


Tut… tut….

Tuuuut…..

Tiga kali peluit berbunyi. Disusul pengumuman kapten kapal yang keluar dari pengeras suara.

“Kita hampir sampai di Pulau Pramuka. Penumpang agar bersiap.”

Ah, tak terasa. Perjalanan 4 jam terlewati dengan sangat menyenangkan. Menyaksikan kapal yang berseliweran. Dan deretan pulau dari kejauhan. Pesona yang tak tergantikan.

Saya kembali memandang berkeliling. Kapal yang nyaman. Lengkap dengan mushola dan ruang peristirahatan. Dan tiba-tiba pandangan mata tertumbuk dengan gulungan kabel hitam.

Penasaran saya mendekat. Rupanya itu colokan untuk menambah daya. Ada 6 slot yang tersedia. Lumayan untuk mengisi daya. Andai saya tahu dari tadi tentu bisa termanfaatkan dengan maksimal.

Melihat colokan itu ingatan akan ASUS Zenbook UX391UA kembali melintas. Bila hari ini saya membawa ZenBook impian itu di dalam tas tentu dengan mudah bisa mencharge. Mengetik sepanjang perjalanan, menuangkan ide tak perlu khawatir kehabisan daya ketika selama berada di pulau yang belum tentu menemukan tempat untuk mencharge baterai.


"Work Longer Charger Faster"

Dengan kapasitas penyimpanan baterai yang tinggi, tak ada lagi kendala untuk tidak menyelesaikan pekerjaan hanya karena persoalan drop daya. Baterainya tahan lama, hingga 13,5 jam. Bila baterai habis dan kita hanya memiliki waktu terbatas untuk pengisian, maka di perjalanan berhenti sebentar di rest area sudah memberi kesempatan untuk pengisian daya.

Dengan teknologi fast charge memungkinkan pengisian kapasistas baterai ZenBook sampai 60 persen dalam waktu 49 menit. Hmmmm….. Sangat praktis dan pantang ribet bukan?

Dan, pengeras suara itu kembali berbunyi. Diiringi sedikit hentakan karena badan kapal yang berbentur dengan dermaga.


Pulau Pramuka, pulau berpenduduk yang menjadi salah satu objek wisata andalan DKI Jakarta


“Selamat datang di Pramuka, semoga bertemu kembali besok.” Ujar awak kapal melepas kami turun di dermaga.

Laut biru, angin sepoi-sepoi dan senyum ramah warga menyapa saat akhirnya saya tiba di Pramuka. Perjalanan monumental di penghujung tahun. Sebuah liburan singkat, sekaligus riset untuk merampungkan sebuah tulisan. Menyelami sisi lain semesta. Menggali kearifan lokal masyarakat yang menjadi kebanggaan bangsa.

Pramuka saya tiba. Ini benar-benar liburan yang asik. Perjalanan penuh semangat untuk meraih impian. #LiburanAsikDenganLaptopASUS #2019PakaiZenBook #ASUSXMiraSahid

***











Kamis, 19 Maret 2020

SENTAJO




Oooo. Lailahaillallah,
muhammadarrasulullah
Datang dan kumbali pado allah
Semuo diserahkan pado allah


Belum selesai baitnya, nandung itu sudah terhenti. Pendek sekali. Tidak seperti malam yang lampau. Bila perempuan itu sudah bernandung tak ada yang bisa menghentikan. Ia melantunkan berbait-bait nandung. Bergelas kopi, berlembar nipah, tak cukup banyak untuk menemani malam-malamnya.


Minggu, 09 Februari 2020

Pembalut Kain Atau Sekali Pakai, Mana Paling Aman?


Penggunaan pembalut memang sangat lekat dengan dunia wanita, karena hanya wanita yang mengalami menstruasi. Saat ini pembalut sekali pakai menjadi primadona, namun dengan hadirnya pembalut kain, banyak yang kemudian beralih menggunakannya. tapi yang manakah yang lebih aman dipakai? Mau tahu jawabannya? Simak informasi berikut.

Plus Minus Dua Jenis Pembalut Kekinian


Menggunakan pembalut kain atau pembalut sekali pakai sama-sama memiliki plus dan minus. Tergantung bagaimana menggunakannya dan bagaimana Anda menjaga kebersihan daerah kewanitaan. Karena menurut ahli, selama digunakan dengan tepat, akan membantu Anda melewati masa menstruasi dengan nyaman tanpa keluhan.

Pembalut Kain

Pembalut ini terbuat dari kain jenis katun yang diproduksi untuk pemakaian jangka panjang. Setelah digunakan harus dicuci bersih dan dikeringkan agar bisa digunakan kembali. Berikut ini plus minusnya.
-      
    Plus
Pertama adalah menghemat uang, karena Anda cukup membeli beberapa saja dan digunakan selama mungkin sesuai dengan ketahanan kainnya. Kedua mampu mencegah iritasi kulit karena biasanya terbuat dari bahan organik, dan ketika mengalami nyeri haid yangnormal akan membantu Anda melewatinya dengan lebih nyaman.

Ketiga yaitu mencegah terjangkit penyakit berbahaya karena aman dari bahan kimia, biasanya pembalut ini terbuat dari bahan yang sangat aman bagi kulit dan kesehatan.

-   Minus

Pertama tak bisa menampung darah menstruasi secara maksimal jika Anda merupakan kategori wanita dengan jumlah darah menstruasi melimpah. Kedua akan tetap berpotensi menimbulkan iritasi jika digunakan seharian tanpa diganti. Ketiga adalah rentan membuat kulit bermasalah jika Anda mengidap alergi pada bahan kain.


Pembalut Sekali Pakai

Pembalut ini dibuat dari serat sintetis yang diformulakan dengan berbagai bahan kimia. Penggunaannya hanya sekali pakai dan langsung buang, karena bahan di dalamnya hanya mampu menerap darah menstruasi saat digunakan saja.

    Plus 

Pertama adalah mudah dalam pemakaian dan praktis tak perlu dicuci, karena setelah pemakaian langsung dibuang. 

Kedua adalah banyak pilihan ukuran sesuai dengan kebutuhan wanita, mulai dari ukuran pendek hingga panjang dan ketebalan yang juga bervariasi, sehingga ketika pakai aplikasi kalender haid bisa dipersiapkan ukuran mana pada hari pertama dan hari berikutnya.

-   Minus
Pertama adalah rentan menimbulkan iritasi karena terbuat dari berbagai bahan kimia. Kedua adalah meningkatkan resiko penyakit kewanitaan karena bahan kimia berbahaya yang dikandungnya.

Karena kedua jenis pembalut tersebut memiliki plus dan minus, Anda bisa memilih yang sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai salah pilih karena kesehatan taruhannya


Selasa, 31 Desember 2019

Kisah Nurman Farieka dan Sepatu Kulit Istimewa




Bukan sekadar urusan produksi, ada dedikasi dan semangat untuk menginspirasi.

***

Rumah bernomor 20 di salah satu gang pemukiman padat bilangan M Thoha Bandung itu terlihat biasa saja. Sama seperti rumah-rumah di sebelahnya. Dari luar tidak  tampak aktivitas yang mencolok. Deretan tanaman hias tersusun rapi menutup dinding rumah berbalut batu alam itu.

Seketika ada rasa ragu, apakah benar itu rumah yang dituju. Sampai akhirnya mata saya tertumbuk pada backdrop berukuran sedang yang tertempel di dinding sebelah kiri. Hirka Chicken Feet Leather. Yap. Pria di balik bisnis itulah yang ingin saya temui siang itu, satu hari sebelum penghujung tahun 2019. Pemuda kelahiran Bandung, 24 tahun lalu itu baru saja menggebrak Indonesia dengan produk kulit sepatu berbahan kulit ceker ayam yang kini telah mendunia, Nurman Farieka Ramdhani.


***

Cukup lama Nurman berbagi cerita mengenai pembuatan sepatu berbahan kulit ceker ayam yang sudah tiga tahun ia kembangkan itu. Dari semula hanya coba-coba akhirnya kini mendunia. Ia sebelumnya tak menyangka bisnis itu bisa berkembang dengan cepat. Bahkan sejak 2019, demi mengembangkan produk baru itu, ia rela meninggalkan usaha sepatu kanvas yang sudah ia geluti sejak beberapa tahun terakhir.

“Banyak pekerjaan yang harus dirampungkan untuk pengembangan, makanya saya ingin fokus dulu ke bisnis sepatu kulit kaki ceker ini,” ujar Nurman. Ada semangat dan harapan dari nada suaranya.

Nurman memang tidak baru-baru amat dalam dunia persepatuan. Sebelum mengembangkan sepatu berbahan kulit kaki ceker ayam, ia sudah mengembangkan usaha sepatu kanvas. Itu pun setelah ia jatuh bangun dalam mengembangkan produk dompet dan aksesori berbahan kulit. Keahlian dalam membuat sepatu kulit kanvas ia dapatkan dari hasil belajar otodidak ke beberapa sentra industri kreatif. Salah satunya pada pengrajin kulit di kawasan Cibaduyut.

Terlahir dari keluarga yang tak punya latar belakang wirausaha, Nurman mengaku sebenarnya ia mulanya hanya tercebur dalam dunia wirausaha. “Karena kebutuhan.” Ceritanya, setelah SMA ia melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Namun karena ada kendala, terpaksa berhenti di tengah jalan.. Buntutnya, semua fasilitas diputus oleh orang tua.

Nurman muda tidak punya pilihan. Satu-satunya cara untuk tetap bertahan, harus memiliki penghasilan. Maka atas dasar coba-coba ia pun ikut dengan beberapa pengrajin aksesori yang ada di Bandung. Pengalaman karena terpaksa itu justru memancing bakat wirausaha dalam dirinya keluar. Sampai akhirnya ia berani membuat sepatu kanvas.

Usaha sepatu kanvas itu berkembang pesat. Pesanan datang tidak hanya dari Bandung, tetapi juga dari berbagai kota. Tak jarang pula ia kelabakan menerima pesanan dari calon pembeli. Namun, sebuah peristiwa mengalihkan perhatiannya. Nurman, menemukan berkas hasil penelitian sang ayah tentang penggunaan kulit kaki ceker. 

“Saya jadi berpikir, kenapa tidak sekalian dikembangkan menjadi produk sepatu.” ujar Nurman.

Pada 2015 ia pun melakukan uji ketahanan dan uji kelayakan bahan kulit kaki ayam. Ia pun mulai memesan ceker ayam dari pedagang di sekitar rumah. Ada banyak aspek yang ingin dilihat, tentang kekuatan, ketahanan, dan kelenturan. Ia juga mulai menyulap bahan kulit kaki ceker menjadi sepatu.

pekerja sedang melepas kulit kaki ceker ayam


Setiap sepatu memerlukan 20-80 kulit ceker kaki ayam, tergantung model dan tingkat kesulitan pesanan. Pada tahap awal, ia mengembangkan produk sepatu wanita. Saat itu Nurman berasumsi, konsumen perempuan lebih mudah diedukasi untuk menggunakan produk baru.

Setahun bereksperimen, mulai terlihat ada harapan. Bahkan, kualitas sepatu yang dihasilkan jauh di luar bayangannya. Tekstur kulit kaki ceker membuat sepatu terlihat menjadi mewah. Belum lagi, saat itu produk yang dikembangkan belum beredar di pasaran. Maka, pada 2016 ia mulai melakukan analisis pasar.

Merasa mantap, pada 2017, Nurman secara terbuka memperkenalkan produk sepatu kulit ceker ke pasar.  Ia memperkenalkan brand Hierka Shoes, sepatu kulit ceker ayam pertama di dunia. Produk itu lebih banyak dipasarkan lewat media digital, seperti facebook, instagram dan kerjasama dengan beberapa toko online. Ia juga gigih melakukan promosi melalui beberapa event pameran.

Meningkatnya permintaan pasar, membuat Nurman mulai mengenyampingkan produk sepatu kanvas yang sudah ia kembangkan. Empat pekerja yang sebelumnya hanya mengurus sepatu kanvas mulai diperbantukan untuk membuat sepatu kulit ceker ayam. Nurman memberikan pendampingan secara langsung kepada karyawan tentang pengolahannya.

Arman, salah satu pekerja menyebutkan, perpindahan bisnis utama dari kanvas ke sepatu berbahan kulit ceker tidak membuat ia ragu. Secara teknik, menurut Arman pembuatan sepatu dari kulit ceker ayam relatif sama dengan berbahan kanvas.

“Cuma kalau di kulit ayam kita jadi harus lebih banyak sabar karena harus telaten mengurus si kulit cekernya,” ujar Arman sambil tersenyum.


Inovasi Tiada Henti

proses produksi sepatu

Punya produk yang diterima baik oleh pasar, rupanya tak membuat Nurman kalap untuk segera meraih untung. Prinsip kehati-hatian tetap ia jaga. Ia tak mau, demi mengejar kuantitas, kulitas produk yang dihasilkan menjadi terabaikan. Karena itu, ia memilih tidak menggenjot para pekerja dengan target produksi.

Meski tak mengantongi gelar sarjana, Nurman tetap ketat membaca pasar. Ia tak segan berlama-lama diskusi dengan para pengrajin yang lebih sukses, dan membaca kisah-kisah para pengusaha sukses untuk memperkaya wawasan. Tak melulu soal produksi tetapi juga soal pemasaran. Ia merasa sangat penting untuk mengetahui trend dan kecenderungan pasar.

Atas berbagai diskusi dan pembacaan terhadap trend pasar, awal 2019, Nurman mengubah strategi. Tak lagi memproduksi sepatu perempuan. Ia mulai beralih mengembangkan sepatu pria. Sedang sepatu wanita hanya dibuat berdasarkan pesanan.

“Riset pasar menunjukkan laki-laki lebih royal dalam belanja, tapi kecenderungan untuk belanja tidak setinggi perempuan. Sedangkan perempuan lebih gampang belanja tetapi sensitif terhadap harga.”


inovasi dan pengembangan produk hirka. foto; hirka.offiicial

Bagi Nurman, riset tersebut sangat penting. Alasannya,  harga sepatu yang ia jual terbilang tinggi. Untuk setiap sepatu biasanya dihargai sekitar Rp1 juta. Hal ini karena tingkat kesulitan dan lama pembuatan yang diperlukan untuk menyelesaikan 1 sepatu.

Strategi mengembangkan produk laki-laki ini rupanya tak meleset. Selama 2019, ia mengalami peningkatan omset cukup signifikan. 1 bulan permintaan bisa 40-100 sepatu. Namun karena keterbatasan produksi beberapa pemesan terpaksa harus membatalkan order.

Pesanan pun tak hanya datang dari dalam negeri. Beberapa kali ia mendapat pesanan dari luar negeri seperti Arab, Singapura, dan beberapa negara Eropa. Sayangnya, tak semua permintaan bisa dipenuhi.


Demi Lingkungan untuk Masa Depan


ketekunan dan ketelitian menjadi kunci produk yang berkualitas

Mengembangkan sepatu yang diterima pasar tentu saja menggiurkan. Apalagi saat ini belum ada pesaing. Namun bagi Nurman, kebahagiaan memproduksi sepatu kulit ceker ayam tak hanya soal pendapatan. Ia merasa senang karena dengan memanfaatkan kulit ceker ia bisa berkontribusi pada lingkungan.

Kulit ceker ayam, biasanya menjadi menjadi bahan terbuang yang tak termanfaatkan. Dengan menyulapnya jadi sepatu, ia memberi nilai tambah baru. Harga ceker di lingkungan rumahnya pun  menjadi lebih baik. Pedagang sayur biasanya dengan senang hati memasok ceker-ceker yang besar dan baik.

Masyarakat di sekitar lingkungan juga mendapat berkah. Ceker yang sudah dikupas kulitnya biasanya dibagi-bagikan begitu saja oleh Nurman pada tetangga. Para tetangga jadi bersemangat membuat sop ceker ayam. Bila pesanan sedang banyak, ia pun tak segan memberikan ceker yang sudah dikuliti pada pedagang soto dan seblak di sekitar rumah. “Kita bagi-bagi gratis saja buat siapa yang mau.”

Membuat sepatu dari bahan kulit ceker ayam, menurut Nurman juga berkontribusi menjaga kelestarian hewan. Ia berharap dengan beralih menggunakan sepatu berbahan kulit ceker ayam, kebutuhan akan produk sepatu kulit berbahan hewan langka seperti ular sanca dan juga buaya menjadi berkurang. Pemanfaatan ceker ayam tidak mengganggu populasi hewan.

Inovasi dan kreativitas Nurman telah membawanya pada babak baru. Setelah ikut memeriahkan beberapa pameran, pada 2019 ia terpilih menjadi salah satu penerima Satu Indonesia Award 2019 untuk kategori wirausaha. Satu Indonesia Award merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan PT Astra Internasional yang diberikan kepada sosok-sosok inspiratif dan pembawa perubahan untuk lingkungan. Keberanian Nurman untuk memulai usaha yang “tak biasa” serta kepiawaian dalam membangun pasar membuat ia terpilih sebagai sosok pemuda inspiratif.


semangat dan harapan sambut hari depan

Bagi Nurman, penghargaan itu membanggakan sekaligus memberatkan. Ia senang karena kerja kerasnya mendapat pengakuan. Namun juga menjadi terbebani karena ia tak mau mengecewakan. Karena itu, pada 2020 nanti dia berikhtiar untuk membuat Hirka Shoes menjadi lebih berjaya.

Saat ini, Nurman tengah menyiapkan lima produk unggulan untuk dipasarkan pada 2020. Produk itu terinspirasi dari keberagaman yang ada di Indonesia. Lewat produk sepatunya, Nurman ingin menyebar semangat Bhineka Tunggal Ika, lewat penamaan dan motif produk yang tengah disiapkan. Ia menargetkan, pada tahun ketiga ia bisa memproduksi 500 pcs setiap bulannya.

Pada 2020 pula ia berencana akan mengemas pemasaran dengan lebih baik. Pemanfaatan media digital akan dioptimalkan dengan berbasis riset dan efisiensi. Selain ingin memperluas pasar, ia juga ingin menularkan semangat untuk terus berinovasi pada generasi muda di seantero nusantara.

“Saya ingin, makin banyak wirausaha muda baru yang tumbuh, sehingga Indonesia menjadi lebih kuat.”

#KitaSatuIndonesia
#IndonesiaBicara Baik
***