A homepage subtitle here And an awesome description here!

Sabtu, 02 Februari 2019

Memilih Tempat Jual Footage Murah dengan Pembayaran Kartu Kredit



Apakah kamu gemar membeli footage dengan metode pembayaran kartu kredit? Membeli di tempat jual footage murah dengan menggunakan kartu kredit memang mudah dan praktis, kita tidak perlu meninggalkan tempat duduk untuk melakukan transfer. Cukup bermodalkan koneksi internet, kartu kredit dan gadget, kita sudah bisa membeli footage sesuai dengan yang kita butuhkan. 

Ketika membeli dengan menggunakan kartu kredit, Anda harus mengikuti sejumlah pedoman agar terhindar dari aksi penipuan serta pencurian identitas credit card.


Tips Aman Membeli Footage Menggunakan Kartu Kredit


Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan agar berbelanja bisa dengan aman dan nyaman, antara lain:

1. Belanja di situs jual footage murah yang dipercayai. Ketika berbelanja dengan menggunakan kartu kredit, pastikan kembali memilih situs yang benar-benar terpecaya serta memiliki kredibilitas yang baik. Mungkin sering menerima email penawaran footage dengan berbagai promo yang menarik namun mengharuskan untuk melakukan “klik” di link tersebut, lebih baik hindari melakukan klik karena bisa saja link tersebut digunakan untuk mencuri data.

2. Pastikan keamanan tempat untuk memasukkan data kartu kredit. Ketika memasukkan sejumlah data kartu kredit untuk melakukan pembelian footage, pastikan memasukan informasi di website yang benar-benar aman, Bisa memeriksa keamanan URL-nya.

3. Lindungi komputer dengan antivirus. Pastikan komputer yang akan gunakan untuk bertransaksi sudah dilindungi oleh antivirus, sehingga para hacker tidak akan bisa mencuri data yang dimiliki. Cara untuk melakukan perlindungan pada komputer adalah dengan mengunduh software antivirus serta spyware serta memasangnya di komputer. Pastikan antivirus ini adalah versi terbaru.




4. Pahami, apa informasi yang harus diberikan dan yang tidak boleh diberikan. Saat membeli footage menggunakan kartu kredit, biasanya ada beberapa informasi yang harus dimasukkan seperti nomor kartu kredit, kode keamanan kartu kredit, tanggal kadaluarsa dan alamat pengiriman. 

Selain hal tersebut, tidak ada informasi yang dibutuhkan oleh situs pembelian. Jika menerima email  yang menyatakan ada masalah dengan pembelian footage dan meminta mengirimkan data kartu kredit melalui email, lebih baik jangan memberikan informasi tersebut karena bisa jadi itu merupakan email penipuan.

5. Hindari menyimpan informasi yang berkaitan dengan kartu kredit di website tersebut. Saat membeli, jika ada pertanyaan “apakah nomor kartu kredit harus diingat?” jangan lupa mengklik tidak. Hindari menyimpan data kartu kredit, hal ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan orang yang tak bertanggung jawab.


Memilih Situs Jual Footage Murah Terpecaya

Banyak situs penjualan footage yang mengaku jika mereka merupakan situs yang paling terpecaya dan memberikan harga paling murah. Padahal, bisa saja hal tersebut hanyalah teknik  marketing. Bila saat ini sedang mencari situs penjualan footage, salah satu pilihan yang bisa dijadikan sebagai rujukan adalah AnekaPics.com.

Banyak footage tanpa royalti yang tersebut di dunia maya, namun website yang paling terkenal adalah Shutterstock. Sayangnya, melakukan pembelian di Shutterstock memiliki tingkat kesulitan
tersendiri, bagi mereka yang masih awam. Kita bisa mencoba mencari footage Shutterstock di AnekaPics.com. Pembelian di website ini tidak harus menggunakan kartu kredit, 

Kita juga bisa menggunakan metode transfer bank, sehingga proses pembelian akan tetap aman dan mudah. Selain itu AnekaPics.com juga memberikan harga spesial bagi Anda. Sudah melayani lebih dari 7000 klien, apakah  masih ragu dengan website pembelian footage ini?


Senin, 31 Desember 2018

Tangan-tangan Ibu di Pulau Seribu





Penyu malang itu mengambang. Warnanya memutih. Hampir seluruh badannya diselimuti lendir. Dalam keadaan mati, ia hanyut, terombang-ambing terbawa arus laut.

***

Berita kematian penyu di perairan Kepulauan Seribu, akhir November 2018 lalu segera tersiar. Video yang diunggah salah seorang nelayan itu seketika menjadi viral di media sosial. Lebih dari 10.000 orang menonton video tersebut dalam waktu kurang dari seminggu. Stasiun televisi di Jakarta ramai-ramai  memberitakan, begitu pula dengan media online dan cetak nasional.   

Tidak hanya satu, melainkan tiga penyu ditemukan mengambang di antara gelombang sampah yang mengarah ke Kepulauan Seribu.  Para aktivis lingkungan menyebut, sampah menjadi penyebab di balik kematian tiga penyu malang itu.

“Mereka kemungkinan besar mati karena sampah, dan kami dalam beberapa waktu ini sudah sering menemukan hewan laut mati karena sampah di sana,” ujar Dwi Sawung, Manager Perkotaan dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) seperti dikutip dari situs online Kompas.com.

Potret Sampah di Dermaga Kali Adem; Sampah menjadi persoalan besar yang selalu memenuhi pantai Teluk Jakarta


Sampah. Lagi-lagi soal sampah. Kita sudah sering mendengar cerita buruk bagaimana sampah menjadi momok bagi kehidupan di lautan. Berita kematian seekor paus raksasa di Wakatobi Sulawesi Selatan pada pertengahan November 2018 ini juga disebabkan masalah sampah. Lebih dari 5,9 kilogram plastik ditemukan dalam perut makhluk raksasa itu.

Lewat seorang kawan yang bolak-balik ke beberapa daerah di Kepulauan Seribu, saya juga sering mendengar cerita mengenai keluhan nelayan yang berhadapan dengan sampah. Tak hanya membahayakan hewan laut, sampah-sampah juga menjadi bencana bagi penduduk pulau di tepi Jakarta itu. Bila musim banjir di ibu kota, sampah-sampah terbawa hanyut ke sungai, mengalir ke laut, lalu mendarat di salah satu pulau.

Saya jadi teringat dengan Pulau Pramuka. Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca, bahwa di Pramuka, masyarakat tengah membulatkan tekad. Bahu membahu membebaskan pulau dari sampah lewat sebuah gerakan, Pulauku Nol Sampah. Bagaimana kabar warga di sana? Apakah sampah juga telah merebut pulau mereka?  

***

Laut Biru; pemandangan asri dan bersih menyambut kedatangan di Dermaga Pulau Pramuka 


Laut biru, air jernih dan semilir angin menyambut kedatangan saya ketika akhirnya tiba di Pulau Pramuka, Sabtu pertengahan Desember lalu. Menempuh perjalanan lebih dari 4 jam, sekitar pukul 2 siang, kapal KM Arwana milik BUMN Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) yang saya tumpangi merapat di dermaga. Pagar tembok dengan aneka warna menyambut mata.

“Selamat datang di Pulau Pramuka,” ujar Pak Trismo, awak kapal yang mengantarkan kami menyeberang pulau.  

Sepanjang perjalanan, saya banyak mendapat cerita dari beliau mengenai kehidupan masyarakat di Pulau.

Pulau Pramuka merupakan pulau kecil yang didiami sekitar 300 kepala keluarga. Mata pencaharian utama penduduk adalah nelayan dan buruh serabutan. Secara administratif kependudukan masyarakat Pulau Pramuka merupakan bagian dari kelurahan Pulau Panggang yang berpusat di Pulau Panggang. Sejak Pulau Seribu berubah menjadi kabupaten sendiri terlepas dari Jakarta Utara, Pramuka dijadikan ibukota kabupaten dan mulai difungsikan pada 2003.

Saat tiba di Pramuka, hal pertama yang saya lakukan adalah mengedarkan pandangan, ke bibir pantai dan ke arah pemukiman. Sambil berkeliling pulau, saya mencari tahu apakah di sana ada gunungan sampah. Apakah sampah telah merebut pulau. Dan jawabannya tidak sama sekali. Tak ada tumpukan, apalagi gunungan sampah yang mengganggu pandangan mata.

“Masyarakat di sini sangat tanggap dengan sampah. Kalau ketemu sampah langsung dipungut,” ujar Bu Titin, ketua RW04 yang saya temui sore itu memulai cerita. 

 Kami bertemu di Rumah Hijau, sebuah bangunan dan areal yang menjadi pusat aktivitas warga dalam menjaga lingkungan di Pulau Pramuka. Menurut Bu Titin, sejak tiga tahun terakhir, kepedulian masyarakat Pulau Pramuka terhadap lingkungan terus meningkat. 

Apalagi sekarang, masyarakat sudah bersepakat untuk mengembangkan pariwisata yang lebih ramah lingkungan. Ecowisata. Masyarakat ingin, setiap wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan bawah laut di sekitar pulau tetapi juga menikmati kenyamanan dan keasrian lingkungan Pulau Pramuka.

Ketika ditanyakan pendapatnya mengenai kabar penyu yang mati di laut Kepulauan Seribu, Bu Titin sempat terdiam. Ia lalu berpendapat.

“Di pulau lain bisa jadi ada penyu mati, tetapi di sini penyu tak boleh mati. Kami akan menjaga pulau ini sehingga menjadi tempat nyaman untuk penyu hidup dan naik ke darat,” ujar Bu Titin.

Pulau Nol Sampah; Ibu-ibu di Pulau Pramuka menjadi pelopor gerakan bebas sampah

Melawan dari Laut

Bangkitnya kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang lebih hijau di Pulau Pramuka mulanya hanya berasal dari inisitif beberapa warga. Adalah Ibu Mahariah, guru Madrasah Ibtidaiah salah satu sekolah agama di Pulau Pramuka, yang memprakarsai gerakan penyelamatan lingkungan bagi warga.

Pada 2003, Bu Mahariah mulai terlibat dalam kegiatan Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang diperkenalkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Ia kemudian terpilih menjadi ketua. Bersama beberapa warga dan pegiat SPKP ia mulai menggalakkan upaya penyelamatan lingkungan terutama ekosistem laut di pinggir pantai.

Di masa-masa awal gerakan, program utama yang dikembangkan yaitu penanaman bibit bakau di sepanjang bibir pantai. Titik yang menjadi prioritas adalah bagian belakang pulau. Bakau diharapkan menjadi benteng pertahanan Pulau Pramuka dari terjangan gelombang pasang.

Selain menanam bakau, Bu Mahariah dan beberapa nelayan juga melakukan upaya konservasi biota laut. Mereka menyiapkan kolam biota yang terletak tak jauh dari dermaga. Kolam itu dibangun secara swadaya. 

Di kolam biota, nelayan mengumpulkan ikan-ikan hias dan ikan unik yang mereka temukan saat melaut. Selain menyelamatkan ekosistem, gerakan ini diharapkan bisa mendukung pengembangan Pramuka menjadi pulau tujuan wisata.

Menanam bakau menyelamatkan pulau; Bu Mahariah, Perempuan yang menggerakkan penanaman mangrove


Upaya menjaga kelestarian alam yang dilakukan Bu Mahariah dan beberapa warga pada mulanya menunjukkan hasil. Bakau yang ditanam tumbuh dengan subur. Beberapa penyu mulai suka naik ke darat dan bermain di sepanjang pantai yang ditanami bakau. Sampai akhirnya pada 2008, banjir besar melanda Jakarta. Jutaan ton sampah hanyut dan terbawa gelombang hingga ke Pulau Seribu.

Pramuka diselimuti sampah. Bakau yang mulai tumbuh dengan baik menjadi korban. Hijaunya tanaman bakau tertutup lautan sampah, warnanya mulai berubah. Tanaman mangrove itu rusak, lalu akhirnya musnah.

“Hampir semua mangrove yang kami tanam mati. Kondisinya sangat mengenaskan, membuat sedih bila dikenang,” ujar Bu Mahariah.

Banjir Jakarta dan rusaknya ekosistem, membuat perempuan kelahiran 1969 itu tersadar bahwa masalah utama pelestarian ekosistem laut ada pada sampah. Dia merasakan sekali betapa sampah telah meluluhlantakkan harapan. Maka mulai 2009 ia mengubah strategi. Selain melanjutkan program menghalau sampah dari laut lewat kerjasama dengan nelayan, ia memulai gerakan dari darat. Menggalang dukungan untuk bersama-sama melawan sampah.

Bu Mahariah kemudian memprakarsai lahirnya gerakan Laut Bukan Tempat Sampah (LBTS).  Bersama beberapa pegiat lingkungan yang tergabung dalam komunitas variabel bebas, Bu Mahariah menularkan semangat pelestarian dengan rutin mengadakan kelas iklim. Ia mengajak remaja dan anak-anak yang menjadi siswa dan murid mengajinya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan penyelamatan lingkungan. 

Di darat, secara rutin anak-anak dan remaja menyisir dan memungut sampah-sampah yang ada di sepanjang bibir pantai. Sementara itu, nelayan yang sudah lebih dulu bergabung tetap dikerahkan untuk mengumpulkan sampah-sampah yang terbawa gelombang laut.

Laut Bukan Tempat Sampah; anak-anak dan remaja menjadi kelompok pionir gerakan melawan sampah di Pramuka

Gerakan ini terus berlanjut, sampai akhirnya Bu Mahariah melihat ada persoalan lain terkait sampah. Ternyata, sampah yang ada di bibir pantai tak hanya berasal dari laut. Ia bersama komunitas LBTS sering menemukan adanya sampah rumah tangga yang berasal dari warga setempat. Fakta itu diperkuat kenyataan bahwa ia beberapa kali menemukan warga yang kedapatan membuang sampah ke laut.


“Saya jadi berpikir bahwa mustahil kita melawan bila masyarakatnya masih banyak yang belum peduli dengan sampah,” ujar Bu Mahariah.


Ia pun mulai mensosialisasikan semangat melawan sampah mulai dari rumah tangga. Namun upaya ini tak semudah membalik telapak tangan. Pada mulanya sangat sulit mendapat simpati penduduk tentang gerakan melawan sampah. Sampah belum dianggap menjadi masalah besar. Ia bahkan sering mendapat cibiran dari warga. 

Bu Mahariah akhirnya putar otak. Kepada anak didik di tempat mengajar mengaji, ia menyebarkan semangat baru. Bu Mahariah meminta anak-anak mengumpulkan sampah di rumah, memilah dan membawanya ke tempat mengaji. Sampah yang sudah dipilah itu kemudian ditukar dengan berbagai benda seperti buku, tempat pensil dan keperluan sekolah. Tujuannya untuk bisa memancing semangat mereka.

Sampah yang sudah terkumpul didaur ulang menjadi aneka ragam kerajinan. Lewat program SPKP, Bu Mahariah kemudian mengadakan pelatihan pembuatan kerajinan dari barang bekas. Hal yang paling penting, kesadaran anak-anak dan remaja untuk mencintai lingkungan terus dibina dan dipelihara. 

Persuasif; Di kelas iklim, Bu Mahariah menularkan semangat cinta lingkungan kepada anak-anak di Pulau Pramuka

Ibu-Ibu yang Bergerak

Inisiatif mengajak anak-anak terlibat ternyata membuahkan hasil. Beberapa ibu-ibu mulai terlibat dan membantu anak-anak mengumpul dan memilah sampah. Mereka yang sebelumnya hanya melihat, mulai terlibat.

Ketertarikan beberapa ibu-ibu dalam mengelola dan memilah sampah, mendorong komunitas Laut Bukan Tempat Sampah mendirikan sebuah posko yang lebih representatif. Keinginan ini mendapat sambutan dari sejumlah pegiat lingkungan yang turut bergerak di Pulau Pramuka.

Komunitas LBTS yang makin luas kemudian mendirikan posko bersama yang mereka namai Rumah Hijau.


Rumah Hijau; Pusat aktivitas penyelamatan lingkungan hidup masyarakat Pulau Pramuka

Sesuai dengan namanya, di Rumah Hijau masyarakat melakukan kegiatan memilah dan mengolah sampah menjadi bahan daur ulang. Mula-mula ada enam ibu-ibu yang terlibat. Lalu berkembang, sampai akhirnya sekarang tercatat lebih dari 40 orang ibu-ibu yang terlibat langsung dan tergabung dalam komunitas. Di luar jumlah itu juga ada warga yang menjadi peserta pasif. Hanya ikut bila ada kegiatan saja.

Di Rumah Hijau berbagai kegiatan digelar, terutama yang berkaitan dengan edukasi mengenai lingkungan dan pengolahan sampah. Pegiat lingkungan dari berbagai latar belakang kerap datang ke sini memberi pendampingan dan penyuluhan. 

Komunitas Jakarta Animal Aid Network yang tertarik dengan penyelamatan penyu di Pulau Pramuka termasuk salah satu yang banyak berperan. Selain itu juga ada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di Pramuka.

“Di Rumah Hijau kita mencoba mengumpulkan aspirasi dari ibu-ibu. Apa yang menjadi keluhan mereka dan kendala dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Kami ingin membangun program yang datang dari bawah,” jelas Bu Mahariah.

Dari hasil tukar pendapat itu, tersaring beberapa keluhan ibu-ibu seperti mulai susahnya air tawar, harga sayur yang terus mahal dan tentu saja persoalan sampah. Aspirasi itu kemudian dibincangkan bersama untuk mencari solusi. Lewat rembug itu akhirnya disepakati bahwa Ibu-ibu harus lebih banyak terlibat.
Ibu-ibu; kelompok yang paling banyak berpengaruh di Pramuka

Di Pulau Pramuka, kelompok ibu-ibu termasuk kelompok yang berpengaruh. Berbagai kegiatan yang dilakukan biasanya didominasi oleh kelompok ibu-ibu.  Banyak keputusan penting di masyarakat yang dilaksanakan karena keputusan kaum Ibu. Karena itu, Bu Mahariah yakin, kehadiran Ibu-ibu dalam penyelamatan lingkungan Pulau Pramuka akan lebih memberi efek.

Lewat Komunitas Rumah Hijau, Ibu-ibu kemudian terus diberikan pengetahuan tentang cara menanam dan merawat mangrove. Kehadiran mangrove diyakini bisa mencegah abrasi pantai dan mengurangi masuknya air asin ke darat. Dengan begitu cadangan air tawar untuk berbagai kebutuhan harian masyarakat bisa dipelihara.

Di Rumah Hijau pula para ibu mendapat pelatihan secara intens mengenai cara mengolah sampah plastik. Kesadaran akan bahaya sampah membuat para ibu makin bersemangat untuk mengelola sampah dengan lebih baik. Untuk memacu semangat dan memberi nilai ekonomi kepada warga, mereka kemudian mendirikan bank sampah.

Di bank sampah, semua sampah yang sudah dikumpul dan dipilah warga ditimbang. Penimbangan biasanya dilakukan setiap hari Jumat. Yang menarik, sampah-sampah itu tidak dikumpul begitu saja, melainkan dikemas dalam botol plastik menjadi ecobrick. Sampah yang diperoleh digunting menjadi kecil-kecil sehingga muatan dalam satu botol plastik menjadi lebih banyak.


Bank Sampah; Lewat program bank Sampah, warga menukar sampah yang sudah dipilah. Kanan atas; gambar yang sudah dipilah dan dikemas dalam botol menjadi ecobrick, Kanan bawah : Buku tabungan sebagai bukti transaksi setoran dan tabungan di Bank Sampah

Ada dua jenis ukuran botol plastik yang dipakai yaitu 600 ml dan 1,5 liter. Setiap masyarakat yang membawa ecobrick akan dihargai sesuai ukuran dengan harga mulai dari Rp2.000. Setiap ecobrick yang disetor akan diukur dan diverifikasi oleh petugas bank sampah. Bila sudah memenuhi standar pengemasan baru bisa diuangkan. Ecobrick ini disimpan dan ditumpuk di rumah hijau. Bila ada pesanan, akan dijual ke luar pulau. Bila tidak akan diolah sendiri oleh anggota komunitas.

Ecobrick yang terkumpul kemudian didaur ulang menjadi bata dan aneka kerajinan. Rencananya bata hasil olahan ecobrick dan styrofoam, akan digunakan untuk pembangunan pusat penjualan oleh-oleh pulau Pramuka dan juga pebangunan beberapa bangunan pendukung aktivitas Rumah Hijau.

Selain bisa dijadikan bata, ecobrick yang telah terkumpul juga bisa digunakan untuk bahan dasar pembuatan souvenir dan cenderamata. Ecobrick yang ada dihancurkan dan dicampur dengan styrofoam beserta campuran zat kimia. Setelah itu dibentuk menjadi hiasan gambar lukisan timbul yang dibuat di atas triplek. Setelah kering, di cat dengan aneka warna.

Saat ini, cenderamata berbahan ecobrick dan styrofoam masih dibuat dalam jumlah terbatas. Biasanya baru dibuat dalam jumlah banyak bila akan ada kunjungan atau pameran. Tak hanya ibu-ibu, warga lain pun juga terlibat.

Olahan sampah: Bu Titin, Ketua RW 04 Pulau Pramuka menunjukkan cenderamata dan bata yang diolah dari bekas stereofome dan ecobrick

Selain menggalakkan program Bank Sampah, ibu-ibu juga sering melakukan kegiatan Gerebek Sampah. Lewat kegiatan ini, para ibu berkumpul dan berkeliling ke penjuru pulau untuk mengajak warga lain turut memilah dan mengolah sampah. Pada program Gerebek Sampah biasanya juga dilakukan pembagian kantong sampah untuk memudahkan warga memilah.

Beraneka manfaat yang sudah diperoleh warga membuat semangat untuk mengolah sampah yang ada semakin nyala. Gerakan yang semula sebatas Laut Bukan Tempat Sampah berkembang menjadi lebih besar. #PulaukuNolSampah. Begitu tekad yang ingin diwujudkan para ibu-ibu dan warga Pramuka.

Bu Bunyani, salah seorang anggota Komunitas Rumah Hijau mengaku sangat merasakan manfaat setelah ia bergabung menjadi anggota. Sekarang ia menjadi banyak pengetahuan dan pengalaman tentang cara bertanam sayuran. Ia juga belajar banyak tentang cara membuat souvenir berbahan dasar sampah.

Menurut Bu Buniyani, ia kini juga sudah punya tabungan dengan jumlah lumayan dari hasil menabung sampah. 


“Jumlahnya lumayan kalau diuangkan, tapi sekarang mau disimpan dulu saja untuk keperluan tak terduga.”  

Ketok tular: Lewat program Gerebek Sampah, ibu-ibu menularkan semangat untuk melawan sampah pada ibu rumah tangga lain di Pramuka, Foto: Istimewa


Menjadi Kampung Berseri

Bergerak dan berubah. Dari hari ke hari, semangat warga untuk melakukan perubahan mewujudkan kampung yang lebih hijau dan asri semakin menunjukkan hasil. Makin banyak saja ibu-ibu yang terlibat. 

Rumah-rumah di Pramuka mulai melakukan penghijauan kecil-kecilan. Pada sisa tanah yang ada di halaman mereka menanam aneka bunga dan tanaman obat-obatan, Hal itu membuat suasana kampung menjadi lebih asri dan hijau. 

Berkebun: Warga memanfaatkan sisa tanah yang ada untuk menanam bunga dan sayur. 

Di tengah geliat masyarakat mengelola lingkungan menjadi semakin ramah, PT Astra Internasional lewat Community Social Responsibility datang menawarkan kemitraan. Dalam konsep kemitraan ini, Astra membantu di bidang pendampingan.

Pada mulanya, tak hanya Pramuka yang dilirik untuk dipinang menjadi mitra Kampung Berseri. Saat itu juga ada pulau lain di Kepulauan Seribu yang diminati. Namun, karena melihat peran aktif masyarakat dalam berbagai aktivitas di bidang lingkungan, Astra pun memilih Pramuka. 

Gerakan #PulauNolSampah dianggap sejalan dengan semangat perusahaan yang ingin mewujudkan perubahan lingkungan. Pada 2015, Astra secara resmi menetapkan Pulau Pramuka menjadi satu dari 77 Kampung Berseri Astra yang tersebar di seluruh Indonesia.  

“Sejak Astra datang, kami selalu tekankan bahwa kami tak butuh bantuan dana. Kalau mau bermitra kami mau dibantu dengan mendatangkan fasilitator dan pelatihan,” ujar Bu Mahariah.

Kehadiran Astra menambah suntikan semangat warga. Para Ibu makin terdorong untuk melakukan perubahan. Tak hanya di bidang lingkungan, masyarakat mulai berpikir untuk mewujudkan ketahanan pangan. Permasalahan kelangkaan sayuran yang selalu menjadi masalah mulai dibicarakan.

Pemberdayaan: Ibu-ibu terlibat aktif berkebun sayur secara hidroponik, pemeliharaan kelinci, dan berlatih membuat kerajinan dari bahan olahan sampah

Setelah rembug bersama, ibu-ibu yang tergabung di komunitas Rumah Hijau kemudian membuat kebun hidroponik tanaman sayur-sayuran. Ada cabe, sawi, terong dan tomat.  Menurut Bu Titin, selain kebun hidroponik, di Rumah Hijau juga dikembangkan pemeliharaan kelinci. Selain untuk konsumsi warga, kelinci tersebut juga dijual.

         “Kami mulai mendorong anggota untuk mewujudkan semangat berwirausaha,” ujar Bu Titin.

Untuk memastikan kesuburan lahan hidroponik, para ibu-ibu membuat  pupuk kompos dengan memanfaatkan sampah organik dari limbah rumah tangga. Untuk pembuatan dan pengolahan mereka mendapat pelatihan dari instruktur yang berpengalaman. Selain pembinaan, warga diberi komposter dan medium pembuatan yang membantu mempermudah pembuatan pupuk kompos.

Selain untuk kebutuhan menyuburkan tanaman di Rumah Hijau, kompos yang sudah diproduksi juga disebar kepada para anggota dan warga. Kompos itu bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman dan menghijaukan pekarangan.  

Rencananya, tahun 2019, produksi kompos ini akan diperbanyak sehingga warga berencana mendirikan rumah kompos. Untuk kebutuhan air bersih warga, Astra membantu menyediakan bak penampungan air hujan di beberapa rumah. Warga juga didorong untuk membuat lubang biopori untuk memperbanyak daerah resapan air sekaligus untuk pembuatan kompos sederhana. 


Kompos dan lubang Biopori : masyarakat mengolah sampah organik menjadi kompos di Rumah Hijau dan juga melalui lubang biopori. Kompos digunakan untuk menyuburkan tanaman baik yang dikelola bersama ataupun secara mandiri di rumah warga

Semangat penghijauan yang dibangun warga kini bisa dirasakan seluruh warga Pulau Pramuka. Ketika berkeliling ke rumah warga, saya mendapati gang-gang yang penuh dengan tanaman hijau. 

Menurut Bu Titin yang menemani saya berkeliling sore itu, saat ini masyarakat bersama pemerintah daerah tengah mengembangkan Pramuka menjadi kampung ekowisata. Nantinya, para wisatawan yang datang, tidak hanya menikmati pemandangan bawah laut tetapi juga menikmati wisata sosial dan budaya dengan menikmati perjalanan berkeliling pulau dan berinteraksi dengan warga.

“Kami ingin pembangunan wisata di sini menjadi lebih ramah dan bernilai budaya.”

Tak hanya di bidang lingkungan, kehadiran Astra di Pramuka juga dirasakan warga pada sektor lain. Di bidang pendidikan, perusahaan yang bergerak dalam berbagai sektor di tanah air itu menyalurkan beasiswa bagi siswa SD hingga SMA. Sedangkan untuk meningkatan kualitas sumber daya manusia,  beberapa guru PAUD dikirim ke Jakarta untuk  mengikuti pelatihan.

Di tempat pelatihan mereka bisa berinteraksi dengan guru PAUD dari berbagai wilayah di tanah air. Selain itu para guru juga diajak untuk ikut studi banding ke sejumlah sekolah binaan Astra yang telah dianggap memenuhi kurikulum dan standar pendidikan nasional.  

Di bidang kesehatan juga tak terlupa. Salah satu program yang dijalankan adalah pembinaan posyandu baik  untuk anak dan balita ataupun lansia.  Pada 2015, Astra juga membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang terletak tak jauh dari dermaga. 

Selain dilengkapi area bermain, di sini anak-anak juga bisa mengenal dan belajar mengenai aturan berlalu lintas. Juga ada ruang serbaguna dan perpustakaan yang bisa dimanfaatkan anak-anak untuk membaca sambil bermain.

RPTRA Elang Pramuka: Salah satu sudut pulau yang memanjakan anak-anak untuk bermain bereksplorasi dan belajar

Menginspirasi Hingga Pelosok Negeri


Semangat dan kerjasama para ibu-ibu menjaga lingkungan menjadikan Pramuka menjadi semakin maju dibanding beberapa kampung lain di Kepulauan Seribu. Dari hari ke hari, komitmen mewujudkan #PulaukuNolSampah menjadikan Pulau Pramuka menjadi kampung percontohan. Tidak hanya dalam pengolahan sampah tetapi juga dalam pengembangan pembangunan lingkungan. 

Semangat itu menjalar ke seantero pulau. Kini makin banyak yang terlibat. Tak hanya kelompok ibu, Bapak-bapak, remaja dan nelayan tak kalah mengambil peran. Semangat yang menular seperti gerakan getok tular.

Sejak 2016, banyak instansi dan lembaga yang datang ke Pramuka. Mereka ingin melihat langsung bagaimana pengolahan sampah yang sudah dilakukan di Rumah Hijau. Para tamu bisa belajar langsung mengenai pembuatan bata dan souvenir berbahan sampah dan ecobrick.

Di Pramuka, wisatawan juga bisa belajar bagaimana cara pembuatan kompos, dan terlibat dalam penanaman bakau. Masyarakat melalui komunitas Rumah Hijau akan mendampingi aktivitas selama berada di Pramuka dengan menyiapkan paket ekosiwata dan edutrip. 


Edutrip: Komunitas Rumah Hijau memfasilitasi wisatawan untuk merasakan wisata lingkungan, memadukan alam dan pendidikan. Peserta akan diajak berkeliling pulau dan merasakan sendiri pengelolahan sampah menjadi kompos dan benda daur ulang.

Bila beruntung, wisatawan juga bisa berinteraksi dengan penyu-penyu yang biasa naik ke pantai pada malam hari. Sejak tanaman mangrove mulai menutupi bagian belakang pantai Pulau Pramuka, penyu-penyu mulai berdatangan.

Keberadaan Pulau Pramuka yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Pulau Seribu membuat masih banyak penyu yang hidup di sini. Ditambah lagi, di Pulau Pramuka juga terdapat kolam penangkaran penyu. 

Saat ini, BKSDA dengan bantuan anak perusahaan Astra tengah membangun ulang kolam penangkaran penyu untuk kepentingan konservasi menjadi lebih representative dan atraktif sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Dibangun ulang; PT Astra Daihatsu Motr sebagai bagian dari Grup Astra Internasional berperan dalam pembangunan ulang kolam konservasi penyu yang terletak di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu

Usaha dan semangat Bu Mahariah membangun kesadaran warga untuk lebih peduli pada lingkungan pun mendapat apresiasi. Pada Agustus 2017, ia terpilih menjadi perempuan penerima anugerah Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo. 

Pada tahun berikutnya, tepatnya akhir Oktober 2018, giliran RW 04 Pulau Pramuka yang mendapat penghargaan sebagai Kampung Pro Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada Bu Titin selaku Ketua RW 4. 

Tak hanya dari pemerintah, dalam beberapa lomba yang digelar Astra, KBA Pulau Pramuka sering terpilih sebagai pemenang. Salah satunya adalah lomba mengolah buah langka dan juga lomba kampung sehat. 

“Hasil tidak pernah mengingkari proses. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi ibu-ibu di sini untuk semakin peduli dan bergerak bersama mewujudkan #PulaukuNolSampah, ” ujar Bu Titin.

Apresiasi : Upaya dan dedikasi masyarakat Pramuka ditambah dukungan penuh dari Astra lewat program Kampung berseri, mengantarkan pada prestasi tinggi. Kanan atas: Bu Mahariah saat menerima Kalpataru. Kanan Bawah : Bu Titin mewakili masyarakat RW 4 Pulau Pramuka menerima anugerah Kampung Proklim. 

Di tengah apresiasi dan dukungan dari banyak pihak, ibu-ibu Pulau Pramuka tak menyurutkan langkah. Sebuah rencana lebih besar dalam tata kelola sampah tengah disiapkan. Saat ini, Bu Mahariah bersama beberapa pengurus rumah hijau tengah menyiapkan standar operasional pengolahan sampah untuk skala yang lebih besar.

Memasuki 2019, Rumah Hijau akan memulai babak baru. Mereka telah menandatangani nota kesepahaman dengan Dinas Kebersihan Kepulauan Seribu mengenai pengolahan sampah. Bila tidak ada aral, setidaknya 60% sampah di Pulau Pramuka akan diolah di Rumah Hijau menjadi kompos dalam skala produksi yang lebih besar. Sedangkan sampah non organik akan diolah menjadi bata untuk pembangunan beberapa fasilitas publik.

“Kita akan coba jalankan, mengolah sampah dari hulu. Mengurangi beban Jakarta, dari gunungan sampah yang tak pernah sirna,” ujar Bu Mahariah.  




Bagaimanapun, upaya mewujudkan kampung asri dan berseri yang digerakkan ibu-ibu di Pulau Pramuka merupakan pemantik yang siap meletupkan semangat bagi masyarakat di seluruh penjuru negeri.

Hal yang lebih utama lagi, bahwa sampah adalah tanggung jawab semua pihak. Menjadi persoalan besar yang harus dilawan bersama. Bila ibu-ibu di Pulau Pramuka bisa bergerak melawan sampah, mengapa kita tidak.  #PulaukuNolSampah, #IndonesiakuLawanSampah. ***


Komitmen menjaga pulau. Bersama melawan sampah. #PulaukuNolSampah




Foto : Dokumen pribadi dan istimewa 





Kamis, 13 Desember 2018

Tips Mendekorasi Dinding pada Sudut Ruangan



Tidak sedikit para pemukim di rumah-rumah dengan luasan bangunan tidak terlalu besar sering mengesampingkan ruang-ruang atau sudut-sudut kecil dalam penataan ruangannya. Padahal area tersebut memiliki peran tersendiri jika dimanfaatkan dengan maksimal. Sebagian para pemilik rumah justru menempatkan beragam furnitur pada ruang atau sudut kecil, namun hal tersebut justru menimbulkan kesan ramai dan sesak.

Bukan dengan menempatkan furnitur di ruang atau sudut kecil secara berdiri, menempatkan furnitur dan menambah dekorasi pada dindingnya dirasa lebih baik untuk memberikan kesan menarik pada area tersebut.

Peran dekorasi pada dinding diketahui selain dapat meningkatkan keindahan ruang tempat bermukim juga dapat memunculkan nilai komersial. Dapat dibuktikan dari para pemukim yang menghias dinding-dinding pada ruang dan sudut kecil untuk meningkatkan interest para pencari hunian tipe sewa, baik sewa rumah atau apartemen, dalam sebuah unggahan foto. Dilansir dari Cultmtl.com, ada beberapa cara dalam mendekorasi dinding pada ruang atau sudut kecil hunian agar berkesan menyenangkan dan indah.

Gantung rak di dinding


Menggantung rak merupakan cara termudah untuk membuat ruangan kecil terlihat menjadi menarik. Tidak hanya meningkatkan tampilan, rak-rak yang digantung pada dinding juga meningkatkan kesan luas dari ruangan tersebut. Keberadaan rak juga akan meningkatkan kesan rapih dan terorganisir bagi pemiliknya. Untuk membuat tampilan yang lebih menarik, anda disarankan untuk memvariasikan barang yang disusun, misalnya buku-buku dengan vas bunga, patung, dan sebagainya.

 Menggantung Tanaman


Jika anda merupakan pemukim yang suka berkebun atau memiliki area penanaman tumbuhan di luar hunian guna membuat kesan hijau dan asari, sudah saatnya menciptakan area serupa di dalam ruangan tempat anda tinggal. Salah satu caranya dengan menempatkan tanaman-tanaman di dalam ruangan. Menempatkan tanaman yang dipasang pada dinding ruangan akan menciptakan interior rumah yang menyenangkan dan mengesankan. Tanaman-tanaman hidup untuk membentuk konsep keasrian dalam ruangan juga dikatakan akan menimbulkan energi positif.

 
Menonjolkan Sisi Artistik


Kesan artistik tentu berkaitan erat dengan menempatkan lukisan-lukisan berkelas pada dinding ruangan. Agar membuat kesan lebih luas pada ruangan, jangan tanggung-tanggung untuk menempatkan lukisan yang berukuran besar pada dindingnya.

Tidak hanya menempatkan lukisan, mengindahkan sudut ruangan agar lebih artistik juga dapat dilakukan menggambar lukisan atau pola dengan menggunakan cat metalik. Berbeda dengan penggantungan lukisan, kesan artistik yang didapatkan dari melukis akan lebih terasa menakjubkan.


Tempelan Populer di Zaman Sekarang


Jika tidak ingin rumit memikirkan ide kreatif dalam melukis area dinding, anda dapat menggunakan wallpaper atau stiker dinding berkualitas tinggi. Hal ini merupakan cara paling populer dan modis digunakan oleh masyarakat di zaman sekarang. Kualitas tinggi dalam hal ini adalah kualitas dimana anda dapat meminimalkan kerusakan pada dinding dan cat ketika proses pasang maupun melepas.

Atau, anda dapat menggunakan wall pics, dimana merupakan keramik bergambar yang dapat dilepas atau dipasang secara fleksibel tanpa meninggalkan bekas atau mengupas cat dinding.

Memajang Unsur Klasik


Menempatkan cermin merupakan opsi yang paling klasik dalam dekorasi dinding ruangan. Tidak hanya dimanfaatkan secara fungsional, keberadaan cermin yang ditempatkan pada posisi yang benar dikatakan dapat menerangi ruangan tersebut dengan cahaya alami. Pantulan cahaya alami disebut juga dapat menimbulkan energi positif untuk ruangan tersebut.

Selain cermin, opsi klasik lain yang dapat dipilih adalah dengan menggantungkan elemen kain bermotif atau kain sulam. Elemen kain dinyatakan selain menimbulkan kesan etnik dan berbudaya juga dapat menimbulkan kesan yang lebih anggun pada ruangan.

Unsur klasik pun dapat ditemukan ketika anda menggantungkan pelat dinding dari porselen atau kayu atau dengan hiasan logam dari kuningan. Jika anda termasuk orang yang mengoleksi barang-barang tersebut, disarankan untuk membentuk pola atau kolase untuk membuat koleksi anda terlihat teratur. Baik pelat ataupun hiasan logam dapat membawa kesan elegan dan megah pada ruangan kecil tersebut.


Rabu, 12 Desember 2018